Tak ada yang lebih tabah dari Asyer Grainne Handreas Mosse, salah satu penggawa Smekda (SMKN 2 Surabaya) di Honda DBL with Kopi Good Day 2025 East Java-North.
Perjalanan hidupnya patut untuk diwartakan. Bukan hanya sekadar menginspirasi, melainkan juga menjadi pelecut semangat. Semangat untuk tak menyerah. Berlaga di DBL Surabaya 2025 menjadi pengalaman pertama Asyer (sapaan karibnya). Smekda berhasil menang 73-9 atas SMA IPIEMS pada laga yang berlangsung Jumat, 29 Agustus 2025 di DBL Arena.
Pada gim pertama, Asyer menghias sepatunya dengan beberapa tulisan. Tulisan ‘Play for mami’ terpasang di sepatu sebelah kanan dan kiri.
Ternyata ada alasan mengapa ia memasang tulisan tersebut di sepasang sepatunya, “Mama aku yang menginspirasi aku buat terus bekerja keras,” bukanya. Menginspirasi yang dimaksud Asyer adalah pengorbanan sang mama ketika Asyer masih balita.
Baca juga: Sibuknya Najwa, Siswi, Pemain Basket, dan Ketua MPK!
Asyer dan rutinitasnya di pertandingan basket
Sang mama rela mengalah demi kesehatan dan keinginan Asyer terpenuhi. Sang mama berhasil menjaga Asyer agar tetap sehat. Tetap ceria tanpa tahu ada hal yang beliau korbankan. Mama Asyer meninggal ketika Asyer masih umur lima tahun.
“Mama ternyata sakit jantung. Waktu dulu itu mama berkorban banyak biar aku bisa tetap sehat terus ceria. Banyak mengalahnya pokoknya,” ujarnya.
Cobaan hidup Asyer tak berhenti sampai di sana. Tak berjarak lama pada momen duka tersebut, Asyer kembali bertemu cobaan. Ayahnya pergi meninggalkan Asyer sendirian. Ya, sendirian.
“Aku itu sebenarnya yatim piatu. Papa ninggalin aku waktu aku umur lima tahun. Gak berselang lama pas mama sudah gak ada. Jadinya aku sama oma (nenek) aja,” ungkapnya.
Menerima kenyataan di usia yang masih sangat belia sempat membuat pikirannya kacau.
Baca juga: Heboh! Guru Smanam Kompak Nribun Bareng di DBL Arena
“Jujur aku sempat mau buat nyusul mama aja waktu itu. Kayak ngerasa cobaan aku itu ada aja. Gak dikasih nafas, Kak,” ceritanya.
Asyer lantas menambahkan, “Aku aja baru tahu kalau mama aku meninggal itu waktu umur 10 tahun. Sebelum itu ya aku ngiranya mama masih hidup. Oma nyembunyiin itu biar aku gak ngedown,”
Poin demi poin diciptakan Asyer dari lapangan
Bertubi-tubi dihantam kenyataan hidup memang sempat membuat Asyer gelap mata. Beruntungnya ia berpegang pada imannya. Iman yang ia yakini saat ini.
“Aku percaya kalau aku lahir dan hidup di dunia itu ada alasannya. Ya memang aku dihadapkan sama realita yang gak masuk akal. Tapi, aku punya Tuhan yang aku jadikan pegangan buat melanjutkan hidup,” terangnya.
Semenjak saat itu, setiap Asyer melantai tulisan play for mami selalu menyertai. Dan basket menjadi jawaban dari ujud doanya selama ini. Menyelamatkannya dari hal-hal yang kurang baik. Doi percaya mamanya tersenyum bahagia setiap ia mencetak angka atau berhasil bermain indah.
“Mama, aku percaya mama selalu melihat aku dari atas. Terima kasih mama. terima kasih sudah jadi pendoa buat aku yang masih di dunia ini. Terima kasih juga sudah selalu mendampingi aku,” imbuhnya.
Kepada DBL Play, Asyer juga menitipkan pesan untuk Oma tercinta. Oma yang sudah menggantikan peran bukan hanya ibu melainkan juga peran ayah untuk Asyer.
“Buat Oma terima kasih sudah selalu menjaga Asyer sampai sekarang. Oma selalu punya cara buat Asyer tetap bisa sekolah. Semangatnya Oma itu juga yang aku terapkan buat hidupku,” cetusnya.
Hingga saat ini pesan Asyer untuk sang ayah tak pernah dibalas. Setiap Natal dirinya selalu mengirimkan pesan kepada ayahnya. Pesan ucapan sekaligus menanyakan kabar.
“Aku yakin papa itu pasti baca. Cuman gak dibalas aja. Ya sudah gapapa,” pungkasnya.
Tak ada yang lebih tabah dari perjalanan hidup Asyer. Kehidupan menghantamnya bertubi-tubi, tubuhnya tetap tegak berdiri. Terima kasih telah berbagi cerita, Asyer. Terima kasih telah menjadi terang untuk lingkungan sekitar. Terus maju gapai mimpimu!
Profil Asyer Grainne Handreas Mosse bisa kalian cek di bawah ini.